Kata Batik sendiri berasal dari bahasa Jawa. Yang merupakan salah satu cabang dari rumpun bahasa Austronesia yang digunakan oleh lebih dari 70 juta penduduk di bagian tengah dan timur Pulau Jawa, Indonesia. Gabungan dari kata Amba dan Tik kemudian menjadi Mbatik, yang secara harfiah berarti membuat titik-titik pada bidang yang luas. 'Bidang luas' di sini mengacu pada selembar kain. Perajin biasanya menggunakan kain sepanjang 2,5 m untuk membatik. Ukuran ini dianggap sempurna untuk menutupi tubuh bagian atas dan bawah wanita serta tubuh bagian bawah pria dengan menggunakan teknik pelipatan khusus.
Ada yang mengatakan bahwa Batik juga bisa berasal dari kata Tritik dalam bahasa Jawa, yang menggambarkan suatu proses pewarnaan dimana motif-motif dibiarkan menempel pada kain dengan cara diikat dan dijahit terlebih dahulu sebelum diwarnai.
Meskipun teknik dekorasi kain yang tahan terhadap pewarna telah ditelusuri kembali sejauh 1.500 tahun yang lalu di Mesir dan Timur Tengah, tidak ada yang semaju kain yang diwarnai yang ditemukan di pulau Jawa di Indonesia. Meskipun demikian, pola dan teknik Batik yang sangat rumit yang kita kenal sekarang mungkin tidak ada sebelum tahun 1800-an ketika orang Eropa mulai mengimpor sutra dan katun tenun halus ke Indonesia.
Ada ukiran di candi-candi kuno di Jawa yang menunjukkan pola kain sejak 800 Masehi, tetapi ini mungkin pola yang menggunakan teknik tenun alih-alih pewarnaan. Masih banyak lagi yang bisa ditemukan, para sejarawan!
Namun, kita tahu bahwa penggunaan Batik berbeda-beda di antara masyarakat Jawa. Kaum bangsawan akan mengenakan motif yang tidak boleh dikenakan oleh rakyat jelata. Beberapa motif hanya dapat dikenakan pada acara-acara tertentu seperti pernikahan atau penobatan, baik untuk pria maupun wanita.
Dan setiap daerah di Jawa telah mengembangkan motifnya sendiri. Barangkali, jenis Batik yang paling bergengsi adalah Prada. Prada berarti emas dalam bahasa Jawa dan memang demikianlah adanya; mereka menambahkan warna emas pada motif Batik. Pada awalnya, Batik Prada hanya dikenakan oleh keluarga kerajaan Yogyakarta dan Surakarta. Kini, siapa pun dapat mengenakannya asalkan mereka mampu membelinya.
Ada yang mengatakan bahwa Batik juga bisa berasal dari kata Tritik dalam bahasa Jawa, yang menggambarkan suatu proses pewarnaan dimana motif-motif dibiarkan menempel pada kain dengan cara diikat dan dijahit terlebih dahulu sebelum diwarnai.
Meskipun teknik dekorasi kain yang tahan terhadap pewarna telah ditelusuri kembali sejauh 1.500 tahun yang lalu di Mesir dan Timur Tengah, tidak ada yang semaju kain yang diwarnai yang ditemukan di pulau Jawa di Indonesia. Meskipun demikian, pola dan teknik Batik yang sangat rumit yang kita kenal sekarang mungkin tidak ada sebelum tahun 1800-an ketika orang Eropa mulai mengimpor sutra dan katun tenun halus ke Indonesia.
Ada ukiran di candi-candi kuno di Jawa yang menunjukkan pola kain sejak 800 Masehi, tetapi ini mungkin pola yang menggunakan teknik tenun alih-alih pewarnaan. Masih banyak lagi yang bisa ditemukan, para sejarawan!
Namun, kita tahu bahwa penggunaan Batik berbeda-beda di antara masyarakat Jawa. Kaum bangsawan akan mengenakan motif yang tidak boleh dikenakan oleh rakyat jelata. Beberapa motif hanya dapat dikenakan pada acara-acara tertentu seperti pernikahan atau penobatan, baik untuk pria maupun wanita.
Dan setiap daerah di Jawa telah mengembangkan motifnya sendiri. Barangkali, jenis Batik yang paling bergengsi adalah Prada. Prada berarti emas dalam bahasa Jawa dan memang demikianlah adanya; mereka menambahkan warna emas pada motif Batik. Pada awalnya, Batik Prada hanya dikenakan oleh keluarga kerajaan Yogyakarta dan Surakarta. Kini, siapa pun dapat mengenakannya asalkan mereka mampu membelinya.

Motif Parang.

Motif Mega Mendung

Motif Sekar Jagad
Kita telah menyebutkan sutra dan katun, untuk membuat pola yang rumit dan mengawetkannya diperlukan kain berkualitas baik. Katun dan sutra dengan jumlah benang yang tinggi adalah media terbaik untuk ini. Karena dapat menyerap lilin yang diaplikasikan dalam proses pewarnaan dengan hati-hati dan tepat. Sebelum kain diwarnai, kain harus dicuci terlebih dahulu dalam air mendidih untuk membersihkan zat-zat yang tidak diperlukan. Saat itu pengrajin juga menggunakan palu kayu untuk membuat kain halus dan lentur juga. Dalam membuat Batik, pengrajin menggunakan alat yang agak sederhana. Yang pertama adalah Canting (ˈtʃɑnteeŋɡ), itu adalah wadah tembaga bercerat kecil yang terhubung ke pegangan bambu pendek. Jenisnya seperti pena. Pengrajin akan mengisi wadah dengan lilin cair kemudian menggambar di atas kain. Gawangan adalah alat seperti kuda-kuda yang digunakan pengrajin untuk menggambar di atas kain.

Gambar Canting dan Gawangan
Alat kedua adalah wajan dan anglo (kompor arang kecil). Alat-alat ini digunakan untuk melelehkan lilin dan menjaganya agar tetap dalam keadaan cair. Yang membawa kita pada lilin. Ada berbagai jenis lilin yang digunakan dalam pembuatan Batik seperti lilin lebah dan parafin.

Wajan dan Anglo modern
Tjap (ˈtʃɑp) adalah versi lain dari Canting. Bayangkan sebuah cap besar dari tembaga dan itulah yang dimaksud dengan Cap. Pembuat Cap menggunakan lembaran besi untuk membuat pola yang diinginkan, menambahkan pegangan tangan, dan cap siap digunakan. Pembuat Batik akan mencelupkan bagian bawah cap ke dalam lilin cair dan dengan cepat menekannya ke selembar kain berulang kali, lalu menjadi kain Batik yang indah. Batik yang dibuat menggunakan Canting disebut Batik Tulis dan ketika menggunakan Tjap disebut Batik Tjap. Di Red Thread, kami membuat Batik Tjap.

