Langsung ke konten
Pakaian Benang Merah - Mengikat Pulau-Pulau
Pakaian Benang Merah - Mengikat Pulau-Pulau
Pakaian Benang Merah - Mengikat Pulau-Pulau

Elevating Indonesian Batik With Contemporary Creativity : Chairol Imam, Indonesian Artist

PT. Sari Sedana telah melestarikan produksi Batik Bali selama lebih dari tiga dekade. Divisi kami, Red Thread, bertujuan untuk meningkatkan Batik tradisional dengan menyelipkan sentuhan kontemporer yang beresonansi dengan masyarakat modern, sambil tetap mempertahankan hubungan kuat dengan seniman dan budaya Indonesia. Selama perjalanan kami, kami berkesempatan bertemu dengan seniman Indonesia Jawa yang berbakat, Chairol Imam.
EDISI KHUSUS RED THREAD X CHAIROL IMAM

EDISI KHUSUS
BENANG MERAH X CHAIROL IMAM

Pengenalan kami terhadap karya batik Chairol Imam terjadi di Kopi Bali House, di mana kami terpesona oleh kain berwarna biru tua yang unik dan inovatif yang didekorasi dengan kartun dan gambar yang menawan, yang dibuat dengan teliti dengan pena lilin batik. Meskipun fokus utama kami adalah pada Batik Printing, kami mengakui ada potensi untuk berkolaborasi.

Visi kami adalah menciptakan pakaian batik yang mencerminkan referensi budaya Indonesia sehari-hari, memupuk rasa kekeluargaan dengan produk kami. Meskipun masih dalam perjalanan tahap konseptualisasi, kolaborasi dengan Chairol Imam menjadi titik awal yang menginspirasi untuk mewujudkan visi ini.

BERTEMU KETUA IMAM, SENIMAN DI INDONESIA

Chairol Imam merupakan seniman batik asal Indonesia. Karyanya cenderung menggambarkan monster dan garis yang terinspirasi dari mengamati sekitar dan dituangkan ke dalam karya. Ia menceritakan bagaimana perjalannanya hingga terjun ke dunia batik.


  • Bagaimana mula awal terjun ke dunia seni?
    Saya dulu sekolah di Sekolah Menengah Atas (SMA) di sekolah khusus seni rupa. Pada masa itu, saya juga bekerja dengan Kriya Logam dan mulai bermain ornamen. Setelah itu, saya melanjutkan ke Universitas. Saya kuliah di Universitas Sebelas Maret. Saat kuliah, saya tetarik mengeksplore banyak hal, seperti seni patung dan seni lukis. Kecenderungan karakter yang sering saya gambarkan adalah monster dan dasar utama dari karya saya adalah garis. Saya mulai tertarik membuat batik karena sudah beberapa kali mengeksplore cat namun kurang puas, contohnya seperti saat menggaris menggunakan warna pink atau warna hijau, namun warnanya tidak muncul. Warnanya baru muncul saat saya menggunakan batik. Disitu saya menemukan kepuasan tersendiri. Banyak unsur garis yang saya gunakan dalam batik. Ornamen-ornamen dalam batik saya merupakan bentuk karakter yang saya olah sendiri sejak kuliah. Begitulah awal mula saya terjun di dunia seni rupa hingga menggunakan medium batik.

      • Dari mana inspirasinya?
        Inspirasinya dari kesekharian saya. Dulu saya mengajarkan mendeformasi bentuk, mengolah bentuk agar tidak terlihat biasa. Jadi bentuk aslinya diubah, seperti dikembangkan, dirusak, atau disembunyikan. Saya bermain dengan prinsip-prinsip itu. Bentuk-bentuknya terinspirasi dari hal-hal keseharian saja, seperti saya melihat hewan di sekitar saya, seperti melihat ayam, melihat ikan, bahkan bentuk-bentuk yang sangat abstrak, distorsi yang tidak ada di dunia nyata. Pengaruhnya dari hal-hal yang sering saya lihat. Bentuk-bentuk binatang, tumbuhan dan mungkin bahkan ada beberapa benda yang terlihat maupun tidak.

        • Dari semua media seni yang pernah mencoba, mana yang paling menarik?
          Menarik semua, karena setiap media seni memiliki kecenderungan dan keunikan masing-masing. Batik menarik bagi saya karena ada perjalanan teknis yang tidak saya dapat di medium lain. Latihan dengan malam harus siap dengan kesadaran ekstra karena ketika lengah sedikit, tak jarang bagian tubuh saya kena tetesan malam yang sangat panas dan saat itu saya kembali sadar dan fokus. Membatik juga membutuhkan kesabaran dan proses yang cukup memakan waktu yang lama, khususnya batik tulis yang saya buat.

        • Menurut Anda, apakah seniman memiliki tanggung jawab moral untuk membawa isu-isu sosial, khususnya di Indonesia?
          Perlunya, setiap karya pasti ada pesan.

        • Apakah Anda mencoba membawa pesan tersebut dalam karya seni Anda? Seperti apa contohnya?
          Saya sering bekerja dengan autobiografi, jadi saya sering berdiskusi tentang diri saya sendiri untuk mengungkapkan sesuatu yang ada di luar, semisal seperti batikku yang ada di instagram. Sebenarnya saya membuat serial berjudul 'Garden in Imagination' yang mengangkat permasalahan ketika pandemi kemarin, kita tidak bisa keluar rumah. Kita kurang berinteraksi dengan orang-orang, kita tidak bisa menikmati pertemuan-pertemuan yang ada di luar, maka dari itu, saya membuat karya batik dengan monster-monster yang ada di kepala saya. Sewaktu pandemi, saya seolah-olah akan menggantikan pertemuan-pertemuan itu dengan membuat karakter monster. Saya seperti membuat taman dengan penuh monster. Jadi salah satu contoh isu-isu sosial yang saya bawa seperti itu.




          • Selama membatik, apakah ada tantangan tersendiri?
            Batik saya masih menggunakan pewarna buatan, pewarna kimia. Tantangan saya sebenarnya, saya masih belum bisa menggunakan pewarna alami. Saya mempunyai kesadaran untuk ekologi kedepannya, tapi eksplorasi saya belum sampai ke pewarna alami. Jadi saya agak membuat jeda untuk batik yang saya buat di kain dan mengekpslorasi ke bahan lain salah satunya batik di atas logam.

            “Perlu diketahui, di Red Thread, kami ingin fokus pada keinginan saat menggunakan pewarna untuk batik. Meskipun kami menggunakan pewarna konvensional, kami tetap memproses air limbah untuk menghilangkan warnanya dan mengolahnya hingga mencapai pH 7,7 sebelum dikembalikan ke alam”

            • Apa ada warna khusus untuk batik dari Kota Solo?
              tampaknya kebanyakan coklat.

              • Apa pernah ke museum Danar Hadi di Solo?
                Iya pernah sesekali, Keren. tapi memang batik itu perkembangan visual ornamennya cukup lambat ya dibandingkan dengan karya karya visual lukisan fine art.



                • Menurut mas Chairol, apakah saat ini, khususnya di indonesia, ada pasar untuk batik dengan gaya yang lebih modern? Atau apa sebenarnya masyarakat kita lebih cenderung memilih batik yang konvensional atau tradisional dengan pola – pola yang masih lama?
                  Sebenarnya masyarakat kita menunggu menunggu pasar batik yang ornamennya lebih modern dan lebih kontemporer. Apalagi segmen pasar seperti rasa selalu berkembang sesuai perkembangan jaman. Pasti yang muda-muda menunggu produk-produk yang lebih kekinian dengan warna yang tidak cuman warna coklat.

                Bahasa Indonesia: _ _ _ _

                VERSI BAHASA INGGRIS

                Sari Sedana telah mendedikasikan dirinya untuk memproduksi Batik Bali selama lebih dari tiga dekade. Divisi baru kami, Red Thread, bertujuan untuk mengangkat Batik tradisional dengan memberikan sentuhan kontemporer yang selaras dengan masyarakat modern, sekaligus menjaga hubungan yang kuat dengan seniman dan budaya Indonesia. Selama perjalanan kami, kami berkesempatan bertemu dengan seniman Jawa Indonesia yang berbakat, Chairol Imam.



                EDISI KHUSUS
                BENANG MERAH X CHAIROL IMAM

                Perkenalan kami dengan kreasi batik Chairol Imam terjadi di Kopi Bali House, di mana kami terpikat oleh kain indigo-nya yang khas dan inovatif yang dihiasi dengan kartun dan gambar yang menawan, yang dibuat dengan cermat menggunakan pena lilin batik. Meskipun fokus utama kami adalah Percetakan Batik, kami menyadari potensi untuk berkolaborasi.

                Visi kami adalah menciptakan pakaian batik yang mencerminkan budaya Indonesia sehari-hari, menumbuhkan rasa keterkaitan dengan citra dan konten. Meski masih dalam tahap konseptualisasi perjalanan ini, kolaborasi dengan Chairol Imam menjadi titik awal yang menginspirasi untuk mewujudkan visi ini.

                BERTEMU CHAIROL IMAM, SEORANG SENIMAN DI INDONESIA

                Chairol Imam adalah seorang seniman batik dari Indonesia. Karyanya cenderung menggambarkan monster dan garis yang terinspirasi dari pengamatan lingkungan sekitarnya dan dituangkan ke dalam karyanya. Ia bercerita tentang perjalanannya memasuki dunia batik.


                • Bagaimana Anda pertama kali masuk ke dunia seni?
                  Dulu saya sekolah di SMA seni rupa. Saat itu saya juga ikut Griya Logam dan mulai bermain motif. Setelah itu saya melanjutkan kuliah. Saya kuliah di Universitas Sebelas Maret. Waktu kuliah, saya memang tertarik untuk mengeksplor banyak hal, seperti seni patung dan seni lukis. Kecenderungan karakter yang sering saya gambarkan adalah monster dan basis utama karya saya adalah garis. Saya mulai tertarik membatik karena sudah beberapa kali bereksplorasi dengan cat, dan tidak pernah merasa puas. Misalnya, waktu saya menggunakan warna pink atau hijau untuk menggambar garis, warnanya tidak muncul. Tapi waktu saya membatik, warnanya benar-benar menonjol. Di situlah saya menemukan kepuasan tersendiri. Banyak sekali unsur garis yang saya gunakan dalam membatik. Motif-motif yang saya buat dalam batik adalah bentuk-bentuk karakter yang sudah saya tekuni sejak kuliah. Begitulah awal mula saya berkecimpung di dunia seni rupa, dengan medium batik.





                • Dari mana inspirasi itu datang?
                  Inspirasinya datang dari kehidupan sehari-hari saya. Dulu saya diajari untuk mengubah bentuk, memanipulasi bentuk supaya tidak terlihat biasa. Jadi bentuk aslinya diubah, seperti dikembangkan, dirusak, atau disederhanakan. Saya bermain dengan prinsip-prinsip itu. Bentuk-bentuknya terinspirasi dari hal-hal sehari-hari, seperti melihat binatang di sekitar saya, seperti melihat ayam, melihat ikan, bahkan bentuk yang sangat abstrak, distorsi yang tidak ada di dunia nyata. Pengaruhnya dari hal-hal yang sering saya lihat. Bentuk binatang dan mungkin bahkan beberapa benda.

                • Dari semua media seni yang pernah Anda coba, mana yang paling menarik?
                  Semuanya menarik karena semua media seni memiliki kecenderungan dan keunikannya masing-masing. Bagi saya, batik menarik karena ada perjalanan teknis yang tidak saya dapatkan dari media lain. Melukis dengan lilin harus lebih siap dan ekstra waspada karena ketika saya sedikit ceroboh, tidak jarang tubuh saya terkena tetesan lilin yang sangat panas, saat itulah saya kembali sadar dan fokus. Membatik juga membutuhkan kesabaran dan prosesnya cukup memakan waktu, terutama batik tulis yang saya buat.




                • Menurut Anda, apakah seniman memiliki tanggung jawab moral untuk mengatasi masalah sosial, khususnya di Indonesia?
                  Perlu diketahui, semua karya harus ada pesannya.

                • Apakah Anda mencoba menyampaikan pesan itu dalam karya seni Anda? Seperti apa contohnya?
                  Saya sering mengerjakan autobiografi, jadi saya sering bercerita tentang diri saya sendiri untuk mengungkap sesuatu yang ada di luar, contohnya seperti batik saya di Instagram. Sebenarnya saya pernah membuat serial berjudul Taman dalam Imajinasi yang mengangkat masalah bahwa selama pandemi, kita tidak bisa keluar rumah. Kita tidak cukup berinteraksi dengan orang lain, kita tidak bisa menikmati pertemuan di luar. Jadi, saya membuat karya batik dengan monster-monster di kepala saya. Selama pandemi, saya seolah mengganti pertemuan-pertemuan ini dengan membuat karakter monster. Saya suka membuat taman yang penuh dengan monster. Isu-isu sosial yang saya angkat mirip dengan itu.

                • Saat membatik, apakah ada tantangan?
                  Batik saya masih menggunakan pewarna buatan, pewarna kimia. Tantangan saya yang sebenarnya adalah, saya masih belum bisa menggunakan pewarna alami. Saya sadar akan dampak ekologis kita terhadap masa depan, tetapi eksplorasi saya belum membawa saya pada penggunaan pewarna alami. Jadi saya berhenti membuat batik di atas kain dan mengeksplorasi bahan lain, salah satunya adalah batik di atas logam.

                “Sekadar informasi, di Red Thread, kami ingin fokus pada keberlanjutan saat menggunakan pewarna untuk batik. Meskipun kami menggunakan pewarna konvensional, kami tetap mengolah air limbah untuk menghilangkan warna dan mengolahnya hingga pH 7,7 sebelum dikembalikan ke alam.”

                • Apakah ada warna khusus untuk batik dari kota Solo?
                  Mayoritas batik di Solo berwarna coklat.

                • Apakah Anda pernah ke museum Danar Hadi di Solo?
                  Ya, kadang-kadang. Keren, tetapi perkembangan motif dan desain batik visual terbilang lambat dibandingkan dengan karya seni lukis visual.




                • Ya, kami setuju. Kursiol, Menurut Anda, apakah saat ini ada pasar untuk batik dengan gaya yang lebih modern? Atau menurut Anda masyarakat kita cenderung memilih batik konvensional atau tradisional dengan desain lama?
                  Padahal, masyarakat kita sedang menanti pasar batik yang motifnya lebih modern dan kekinian. Apalagi, segmen pasar seperti selera selalu berkembang mengikuti perkembangan zaman. Pastinya, anak muda menanti produk yang lebih kekinian dengan warna yang tidak melulu cokelat!

                Lihat karya Mas Chairol di Instagram dan semua teman monster kecilnya yang menemaninya selama pandemi!

                Tinggalkan komentar

                Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan..

                Keranjang

                Keranjang belanja Anda saat ini kosong.

                Mulai Berbelanja

                Pilih opsi